Kamis, 20 November 2014

Sepertinya Salah Sasaran







Ini waktu yang tepat untuk menyatakan cintaku pada Rena. Rena salah satu murid favorit di sekolah favorit. Siapa sih yang nggak kenal sama SMA 25 Jakarta? Pasti kenal dong yaa, tepat sekali di sekolah ini gudangnya para artis. Tapi tidak dengan Rena dia bukan tipe cewe yang suka tampil di layar kaca meskipun sudah banyak yang menawarkan job padanya, dia cantik, pintar, anggun emmm tipe aku bangetlah dan aku harus bisa dapetin dia karna semua cewe nggak akan mungkin menolak cintaku. Secara aku kan idaman banget. Meskipun yang bilang cuman ibuku saja tapi aku tetap percaya kok.                                                                        Rena lolos jadi milikuu. Tapi itu semua enggak berjalan lama karna setelah lulus Rena harus kuliah di Singapore. Nggak mungkin kan kita LDR? Karna kata orang 99% hubungan LDR itu nggak akan berjalan cukup lama karna butuh kesetiaan yang luar biasa. Tapi nggak tau juga sih bener apa enggak aku belum pernah ngejalaninnya sih. H-3 sebelum berangkat ke Singapore kita putus. Bayyyy Rena kita lostcontac sampai sekarang.
Setelah lulus dari Sma 25 Jakarta aku lanjut kuliah di UI siapa lagi yang nggak kenal UI? Universitas Indonesia loh. Banyak cewe cakep dan tajir di sana. Setelah Rena bayyy aku mulai tertarik dengan Maudy, Maudy? Wihhhhh Rena banget bedanya Maudy lebih seksi sih hehe nggak papa buat penyegaran yaa haha. Aku harus milikin Maudy, Rena aja bisa dapet kenapa Maudy engak. Tapi dalam misiku kali ini ada penghalang yang bisa mempersulit semuanyaa.Sudah PDKT terlalu lama akhirnyaa “kamu mau nggak jadi pacar aku? Please. .                                                                                                          
“ emm ada syaratnya dong, aku kan bukan cewe gampangan.”        
“sebutin aja aku bisaa kok demi kamu.”                                            
“syaratnya kamu harus bilang ke papahku dulu karna dia yang bisa nentuin mana cowo yang baik buat aku.”                                                                                                       
Gubrakkkk bisa mati berdiri aku. Baru saja nginjak rumahnya aku sudah tak bernyawa bagai pejuang yang mati sebelum perang ahhhhh ini sangat tidak semudah yang aku bayangkan. Papahnya Maudy terkenal galak dan semua anak kampus sudah tau itu. Aku pantang menyerah sebelum mencobaa.                 
Maudy lolosss jadi milikku. Akhir akhir ini ketika kami berdua, Maudy sering sekali pusing tiba tiba dan sempat aku nggak sengaja lihat dia mimisan. Aku cari tahu lewat papahnya dan yang dibilang papahnya aku harus menjaga Maudy serta membahagiakannya di sisa akhir hidupnya. Dia mengidap penyakit Leukimia yang sangat ganass. Sudah dengan cara apapun tetap saja tidak bisa sembuh kecuali Allah yang berkehendak.
Tanpa melewati waktu yang lama, mungkin hanya dua bulan kita pacaran dan ketawa bersama. Tepat di hari ulang tahunnya dia menghembuskan nafas terakhir. Maudy? Bayyyyy semoga tenang di surga yaa.                                                       
Baru aku sadari hidupku berbeda setelah kepergian Maudy. Aku jadi sering murung dan tak ada semangat untuk hidup lagi. Bagaimana aku bisa move on? Kalau hatiku masih untuk Maudy dan belum ada yang lain. Baru sempat kita bersama tapi Allah sudah menjemputnya. Aku berfikir apa mungkin dengan aku pindah ke Tokyo aku bisa dapat pengganti Maudy. Apa salahnya di coba? Aku keluar dari UI dan lanjut pindah ke Tokyo bersama ibuku.
Tokyoo tibaaa…. Aku berharap disini dapat memelukmu dan mendapat pemilik hatiku, wahai gadis Tokyoku. Dengan segera aku membereskan baju dan berkeliling di sekitar Tokyo untuk menghilangkan kegalauanku karna Maudy. Sudahlahh aku tak mau menyebut nama dia lagi. Dia sudah ada di dalam hatiku bagian kecil yang akan tertutup sama gadis yang menungguku..                               

Hampir 1bulan aku berada di Tokyo belum ada tanda tanda cewe yang menarik perhatianku.” Brukkkk” sedang asyik melamun di tepi jembatan seseorang menabraku. “maav aku buru buru.” Katanyaa… “heii sapu tangannya jatuhh”           
sapu tangan pink bertuliskan Raisa dengan bordiran yang sangat cantik dapat menarik perhatianku. Kayaknya dia yang aku cari, pengobat hati yang dilanda semu karna hati yang sunyi.                                                                                           
Aku telusuri mencari informasi tentang cewe itu. Dalam misiku dia harus jadi pacarku. Setelah berkenalan kita mulai akrab dan sering pergi bareng. Ini saatnya “kamu mau kan jadi pacarku?” kataku                                                               
Raisa lolosss bisa dapetin hatiku, aku mulai terbiasa bersamanya. Hari hariku bahagia dengannya.                                                                                                            
Tapi hanya sampai 1 bulan saja karena Raisa tipe cewe yang selalu mencari cowo yang lebih kaya. Dia mulai tertarik dengan orang lain. Aku dan Raisaa bayyy H+5 setelah bayyy aku pulang ke Jakarta.                                                                                 
Sudah 3 cewe yang aku taksir bakalan jadi milikku. Itu artinya aku memang cowo idaman semua cewe atau memang dari lahir aku sudah mempunyai ilmu ini? Emm semacam ilmu pellet tapi enggak tau asal  usulnya dan aku anti banget dah sama yang namanya dukun kek gituan.
Aku kembali kuliah di UI lagi supaya aku dapat menitih karirku lebih lanjut. Hari pertama masuk aku sudah di tantang oleh ketiga temenku, katanya kalau aku berhasil dapetin Nina aku bakalan di cap cowo yang jago naklukin hatinya cewe. Lalu aku terima tantangannya. Karna aku percaya hanya lewat tatapan mata cewe manapun akan jatuh hati padaku. Nina itu cewe paling perfect di kampus ini, matanya yang indah, kulitnya yang putih, emmm barbie banget dah pokonya.   Banyak cowo yang naksir sama dia tapiii nggak satu pun yang berhasil naklukinnya. “Setelah ini aku adalah cowo satu satunya yang berhasil”. Gunamku dalam hati.                                                                                                                               Langkah pertama aku coba kenalan dan mencari informasi tentangnya. “hai” sapaan pertamaku,                                                                                          
“ihhh najiss sok akrab banget.”                                                                                  
Gila tuh cewe songong dan cuekkk amatt, aku jadi penasaran sama dia, Nina tipe cewe yang sukar bergaul sama cowo, jadi ini yang bakalan mempersulit semuanya, semakin hari aku berusaha mendekatinya, seperti misiku sebelumya aku harus bisa naklukin Nina. Entah kenapa kali ini aku merasa sulit sekali dapetin Nina padahal cewe manapun lolosss dengan mudah.                                            Aku berhasil mencari informasi tentang dimana rumahnya berada. Malam minggu aku berniat mengunjungi rumah di Jalan Tamrin No 23 Blok A Jakarta. Rumah yang sangat mewah bahkan seperti Hotel bintang lima memenuhi jalan Tamrin, tapi sayang aku tidak menemukan kecurigaan disana. Tiba tiba ada mobil jazz warna merah keluar dari gerbang aku lantas mengikutinya. Melewati jalan sekitar 12km mobil itu terhenti di depan gang dan keluar dari mobil seorang wanita cantik dengan pakaian yang membuat orang melihatnya merasa berdosa. “apa itu Nina? Ahh nggak mungkin. Nina selalu berpakaian yang sopan, tidak mungkin ahh. “ Aku mengikutinya dari kejauhan melewati gang gang yang sangat sempitt. Awal masuk gang tersebut astagaaaa aku tidak tahan melihatnya, semua cewe berpakaian yang tidak seharusnya dan berdandan melewati batas. Semua laki laki di buat lalai akan kehidupannya. “mau pesan yang berapa mas?” tiba tiba salah satu orang menanyaiku. “yang masih natural dan belum tersentuh siapapun. Ada?” Jawabku “ada tunggu sebentar 15menit aku kembali bersama pesananmu.” Tiba tiba datang dengan seorang cewe cantik sekali berpakaian warna coklat susu terlihat begitu seksi.                                                                                             “Nina?” bernada kaget. “Randy? Ngapain kamu disini?” Tanya Nina padaku. “Ternyata benar yang aku ikutin tadi itu kamu. Aku nggak percaya Nin, ternyata kamu…. Sungguh aku tidak menyangka.” Jawabku. “kamu benar ini aku, inilah pekerjaanku setiap hari dan kamu masih mau mendekatiku?” ujarnya. “Lantas yang setiap hari di kampus berlagak sok cuek dan selalu berpakaian sopan itu siapa?”                                                                                        
“kamu mau tau? itu kembaranku, aku sengaja menyuruh dia menyamar dan merubah kelaminnya jadi aku karna wajah kita mirip. Dialah yang bercerita kepadaku bahwa kau selama ini mendekatinya. Lebih tepatnya mendekati Nina.” 
            Sungguh aku binggung dengan semua ini, aku tak tau apa maksutnya sedangkan aku terlalu jauh mengenalnya sampai aku lupa bahwa aku menjadikan dia taruhan, akuu tak mungkin mencintainya dengan kondisi seperti ini. Tapi hatiku tak dapat mengelak bahwa dialah yang aku cintai lebih dari cewe aku sebelumnya. Nina? Kenapa kamu harus jadi seperti itu. Eh tunggu bukan kah aku mencari cewe yang belum tersentuh dan aku di berikan Nina? Berarti Nina ini masih…
“nih bang aku bayar cewe ini 4 milyarr,” segera aku tarik Nina keluar dari gang tersebut dan aku bawa pergi ke rumahnya.                                                                  
“Nin, aku sayang sama kamu, aku enggak mau kamu jadi kayak gitu lagi. Maukan kamu berhenti.”                                                          
“ iyaa makasih Ran, kamu sudah bantuin aku keluar dari situ, aku nggak tau gimana caranya buat bayar hutang ayahku makanya aku di jadikan cewe pelacur seperti itu.”                                       
            pantas saja kemarin aku di tolak sama cewe ternyata aku salah sasaran hehe.. bukan cewe yang aku tembak melainkan cewe berkelamin setengah cowo. Yang jelas selagi aku tertarik sama cewe yang mampu bikin aku jatuh cinta aku pasti bisa mendapatkannya. Entah darimana asalnya aku dapat ilmu ini yang pasti sudah keturunan dari ayahku. Buktinya aku sekarang bisa dapetin Nina yang asli bukan yang setengah cowo loh. Nina? Lolosssss ….             


END