Dinding-dinding hatiku merasa manangis saat ku tahu orang yang selama ini aku percaya, tak ada lagi rasa cinta. Sedikit pun rasa iba terus mengoyahkan niatku untuk berbuat baik padanya. Orang yang tak pernah ku kenal sebelumnya, hanya lewat sebuah kedipan mata aku mengenalnya.
Itulah yang aku rasa, aku sangat terluka. Melihat kekasihku pergi dan digantikannya dengan seorang pria yang baru saya tak pernah ku kenal.
Mungkin benar apa kata ayah dan ibuku. Dia lebih baik untukku tapi aku tak bisa memberikan hatiku seutuhnya. Aku tak tahu banyak tentangnya yang jelas aku tak ingin mengulangi kesalahan yang sama.
Aku harus bagaimana? pilihan dari orang tuaku yang kurasa baik malah sungguh menyakitkan. Pilihan yang selama ini aku anggap dapat menjadi yang terbaik malah menjadi orang yang paling bodoh.
Aku kehilangan banyak waktu untuk memikirkan ini semua. Enggak ada salahnya aku coba merasakan cinta dengan pilihan orang tuaku.
"Yakinlah nak, tak ada orang tua yang tak mengingginkan anaknya hidup bahagia. Semua ini papa lakukan karena ingin melihat anaknya bahagia."
Kali ini aku akan mencoba menerima pilihan itu. pilihan yang seharusnya tak pernah ada di hidupku terutama di urusan pribadiku.
Lalu bagaimana dengan kabar pria yang sering membikin aku menangis? setelah sekian lama aku tak mengenalnya, kini aku sangat terluka..
Selesai
Flash Fiction ini ditulis
untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar