Sabtu, 03 Mei 2014

Waiting



WAITING



Menunggumu bagaikan menunggu salju turun serasa lama dan nggak akan pernah terjadi .
Biasanya kalau orang itu sayang yaa orang itu rela nunggu orang yang dia sayang sampai kapanpun.

Suatu pagi seperti biasa aku duduk paling depan dan si Dio juga seperti biasa duduk di sebelahku. Aku dan Dio bersahabat sudah lama, sebelumnya antara aku dan Dio tidak ada yang kita sembunyikan kami berusaha agar saling terbuka, tetapi tidak satupun ada yang tau tentang perasaanku kepadanya . Semua orang memang menganggap kami sahabat padahal tingkah laku kami melebihi layaknya seorang sahabat.
"eh hariini ada murid baru loh " tanya Dio
"iya aku tau kok tadi ketemu tuh di gerbang sekolah " jawabku.
"orangnya kayaknya asik ya, cantik pula ".
"apaayaaa ciyee kamu naksir kayaknya haha ".
"haha gapapa dong kalo naksir ? Iyakann "
"ya emang gapapa sih , gaada yang ngelarang juga." kalimat itu aku ucapin tanpa tidak aku sadarin , aku masih berusaha menutupi semuanya, hingga Dio percaya bahwa tidak ada perasaan apapun antara aku dan dia.
"hai boleh dong aku duduk sini ?" tanya murid baru sok akrab
"iya boleh silahkan ." jawab Dio sok manis
Mereka berdua mulai berkenalan dan akrab so al hasil akunya di cuekin deh ... Yaps ini tahap awal, kata Dio untuk lebih kenal anak baru itu. Anak baru itu bernama Lala dia salah satu anak orang sukses di kota ini .

Tak lama kemudia mereka deket dan merasa nyaman, aku juga bersikap biasa saja ketika semua perhatian Dio hanya untuk Lala . Ketika aku tau mereka pacaran, sikapku sih tetep tenang tapi hatiku enggak bisa di ajak tenang. "entah apa yang salah dari aku, apa perasaanku yang salah ataukah cara aku yang tidak tebuka yang membuat aku jadi kayak gini ?". Aku bertanya pada diriku dan seperti biasanya aku masih belum berani mengungkapkan seluruh perasaanku.

Dio setiap hari selalu bercerita tentang pacarnya, seluruh isi curhatannya aku dengerin telinga kanan dan keluar dari telinga kiri. Aku berusaha ngasih solusi agar semuanya tetap baik baik saja.
Kemarin di sebuah lestoran aku melihat Lala makan bersama dengan seorang cowo yang pasti cowo itu bukan Dio. Aku menyembunyikan ini semua dari Dio karna aku enggak mau merusak kebahagiaan Dio. Aku rela Dio bahagia selain sama aku,
Tak lama kemudian Dio tau bahwa Lala adalah cewe matre yang ingin memanfaatkan Dio saja.
"Aku barusan putus sama Lala " Dio memulai pembicaraan padaku.
"loh ? Kenapa ? "
"iya, Lala enggak sebaik yang aku kira sebelumnya, memang sih mukanya cantik dan polos gitu, tapi hatinya tak sepolos wajahnya."
" yasudahlah kamu udah tau semuanya memang dia bukan cewe yang baik"

Semenjak itu Dio mulai menghindar dari Lala karena perbuatan Lala yang membuat Dio syokk dan kecewa berat.Dio belum tahu bahwa sebelum Dio pacaran sama Lala aku sudah menjalin hubungan dengan Dandi anak SMA Tunas Harapan yang terkenal keren dan tajir itu. Aku pacaran sama Dandi tidak di dasari rasa cinta, rasa cintaku hanya untuk Dio. Aku enggak bisa kalau harus menutupi semua ini, akhirnya aku cerita ke Dio, dan Dio sempat marah padaku tapi tak lama kemudian semuanya mulai baik-baik saja.

Aku merasa kalau perbuatanku itu malah membuat Dandi tersakiti karna aku sama sekali tidak memcintainya. Dan aku menjelaskan semua tentang bagaimana perasaanku .
"Dan sebelumnya aku minta maaf, sebenarnya aku sama sekali tidak mencintai kamu. Memang ini menyakitkan buat kamu, tapi aku enggak bisa berbuat apa-apa kamu terus saja memaksaku agar mau menjadi pacarmu. Aku sudah mencintai cowo lain, maafkan aku ini memang menyakitkan buat kamu." aku menghela nafas panjangn dan merasa bersalah.

" lantas kita harus bagaimana sekarang ? Mau putus ?"
" iya kamu enggak keberatan kan ?"
" enggak kok. Makasih atas selama ini sudah mau jadi bagian hidupku."
Dandi menyadari bahwa hubungan yang tidak di dasari dengan rasa cinta itu enggak akan bertahan lama. Seketika itu juga aku dan Dandi putus. Tenyata sebelumnya Dandi tahu kalau persaan cintaku hanya untuk Dio, karna aku diam-diam sering memperhatikan Dio.

Dua Minggu Kemudian...
Papa dan Mama mengajakku pindah ke Paris, aku pikir ini kesempatan bagus agar aku bisa melupakan Dio sahabatku, dan Dandi bisa mengikhlaskan kepergianku.
Yang tau kalau aku mau pindah cuman Dandi aku sengaja tidak memberitahu Dio, karena aku tidak ingin membuat Dio sedih karena kepergiaanku.

Dio nyamperin Dandi yang sedang asyik mengaduk-ngaduk makanannya ."kamu tau Gadis dimana ngak ? Dia nggak masuk hari ini."
Gadis itu nama panggilanku di sekolah, semua orang lebih sering memanggil aku dengan sebutan Gadis, entah aku enggak tahu apa alasannya.
"loh kamu enggak di kasih tau sama Gadis yaa? Diakan hariini berangkat ke Paris."
"ke Paris ngapain ?"
" katanya sih mau tinggal disana karena papahnya ada pekerjaan disana. Kamu juga nggak tau kan tentang perasaannya padamu ?"
"maksut kamu perasaan apa ?"
"dia itu nyimpan harapan besar sama kamu, selama ini dia berusaha menyembunyikan semuanya."
"lantass ? Knapa Gadis bisa pacaran sama kamu ?"
"udah nggak usah banyak tanya cepat temui Dia, mungkin jam segini dia masih ada di Bandara. Kalau enggak kamu akan kehilangan dia untuk selamanya"
 Tanpa pikir panjang Dio langsung bergegas ke Bandara menemui Gadis.
"permisi , pesawat ke Paris apakah sudah berangkat ?" tanya Dio kepada salah satu petugas.
"sudah sekitar lima menit yang lalu."
Dio merasa telat karena orang yang sangat mencintainya sudah pergi meninggalkannya
"kenapa kamu menyembunyikan semua ini Dis, kalau saja kamu jujur dari awal aku bakalan ngasih hatiku untuk kamu. Aku juga sayang sama kamu Dis, selama ini aku juga menyembunyikannya dari kamu, karna aku pikir aku enggak pantas untuk kamu. Andai kamu masih disini Dis, aku janji bakalan ngebahagiain kamu, pasti kita bisa seneng-seneng bareng lagi. Kamu kapan pulang Dis, aku disini akan slalu nunggu kamu Gadisku tersayang.." Dio bicara sendiri sambil menangis.

Dengan rasa menyesal Dio pun langsung pulang kerumah, yang saat ini dia harapkan adalah menunggu aku kembali ke pelukannya lagi.

Setelah sebulan aku pergi meninggalkannya dan kini hidupnya tanpa bayangan orang yang dia cintai, berhari-hari Dio merenung, hidupnya tak seceria dulu saat aku berada di sampingnya..

Sekarang tanpa bayanganmu akankah ku bisa tegar..
Akankah ku bisa lalui hidup ini ..
Kumohon kembalilah..
Kembali tuk temui separuh hatimu..
Separuh jiwa dan ragamu..
Duhai Gadisku tersayang ...

Disela-sela kesibukannya Dio menyempatkan menulis sepenggal bait puisi untukku. Dio masih beharap aku datang menemuinya, karna Dio merasa akulah cinta sejatinya.

Sedangkan disisi lain aku pun selalu merindukan kenangan dulu saat bersama Dio. Yang aku pikirkan saat ini kapan aku bisa kembali ke Indonesia dan menemui Dio lagi.
Tiba-tiba ayah mengajakku pulang ke Indonesia karena pekerjaannya di Paris sudah selesai. Tanpa pikir panjang aku langsung membereskan seluruh barang-barangku, aku enggak sabar ingin segera bertemu dengan Dio.
"Dio.................................. " aku lari menemui Dio yang berada di luar rumah sambil melukis burung yang ada di taman sebelah rumahnya.
"Gadisss ? " Dio sangat kaget melihat kehadiranku. Dio langsung memelukku dan mendekatkan wajahnya di depan wajahku.
" kamu kemana aja sih ? Aku nyariin kamu tauk." tanya Dio
"maaf aku menghilang dari hidupmu, karna aku ingin melupakan semuanya. Tapi aku sadar aku gabisa tanpa kamu. "
" jangan pergi lagi yaa, aku sayang sama kamu, semenjak nggak ada kamu aku jadi nggak ada semangat lagi. Maukan jadi semangtku sekaligus pacarku? "
" iya aku mau Dio".
Dio langsung memelukku erat dan mencium bibirku dengan penuh rasa cinta.
Semenjak Dio jadi pacarku aku merasa menemukan cinta sejati yang nyata di dalam kehidupanku. Dio selalu memanjakanku dan ada aja hal yang dia lakukan agar aku bisa ketawa.
 kalau kita mau menunggu seseorang yang kita anggap orang itu tepat buat kita , maka dengan mudah cinta sejati itu datang tanpa kita sadari.

SELESAI

Hujan Kemarin



HUJAN KEMARIN



 

Memang sulit melupakan sesorang yang sudah ada lama di dalam hidup kita . Tapi lebih sulit lagi kalau kita sudah berhasil melupakan orang tersebut tetapi orang itu datang lagi ke kehidupan kita.

Sio adalah orang yang dulu pernah ada di kehidupanku, dia rela meninggalkan aku demi seseorang yang baru saja dia kenal. Pertama putus sama dia aku merasa kehilangan dia tapi semakin lama dan semakin terbiasa aku bisa melupakannya.
" maaf hubungan kita cukup sampai disini aja ya , aku gamau kamu tambah sakit dengan hubungan ini. Aku sudah tidak mencintai kamu lagi". Aku inget sekali kata kata yang Sio ucapkan padaku untuk mengakhiri hubungan kita. Pada saat itu aku sangat sedih sekali , mungkin kalau bisa dihitung jumlah air mata yang keluar sama seperti jumlah betapa besar cintaku padanya.
"apakah kamu tidak kasihan sama hubungan kita yang telah lama kita jalanin dan betapa banyaknya kenangan manis kita dulu. Dimana kita saling mengerti satu sama lain dan dimana kita mempertahankan satu sama lain." jawabku sambil menangis.

Dua Tahun Kemudian

Kini tepat dua tahun hari hariku tanpa Sio. Sekarang aku sudah mulai terbiasa tanpa dia dulu aku boleh saja menangisi kepergiannya tapi sekarang aku akan berusaha kuat tanpanya .
"hai ntar malem nonton yukss ." ujar Edwin sahabat Sio yang selalu ada saat akau butuh teman. Aku sama Edwin mulai akrab dan menjalin persahabatan .
" emm nanti malam ? Okedeh jamberapa ?" jawabku sambil menyalin buku catatan miliknya.
"aku jemput jam setengah 7 yaa ?"
"okee jangan molorrr ."
" sipp deh cantik.Dandan yang cantik yaa .. " balas Edwin sambil mengedipkan mata.

Aku dan Edwin memang sangat akrab , semua orang mengira kita pacaran. Aku sangat berterima kasih sekali karena setelah ada Edwin aku berhasil melupakan Sio. Aku merasa Edwinlah yang saat ini aku butuhkan. Setelah acara nonton kemarin kami berdua pacaran.

"sayang ntar malem aku kerumah kamu ya." ujar Edwin. "baiklah ada acara apa kok tumben mau kerumah ?" jawabku
"ya ngak papa lagi pengen aja main kerumah pacar haha."
"ohh yaudah aku tunggu deh hehe ."
Mereka berdua jalan menuju ke kantin dengan mesranya. Semuanya pada iri melihat kemesraan kita. Entah kenapa kalo ada lomba pasangan paling mesra, kami ini kontestannya haha.
Tiga bulan ini hubungan kami baik baik saja. Tapi entah kenapa minginjak empat bulan Edwin berubah menjadi cuek dan kasar sama aku. Aku enggak tau hal apa yang membuat Edwin jadi berubah seperti ini.
"sepertinya perhatian yang aku berikan kepadanya itu kurang. Baiklah aku mencoba mengerti semua ini . Bukankah dalam sebuah hubungan harus ada pengertian ." aku berkata dalam hati sambil melihat cicak yang ada di atas tepat pada kepalaku.

Sehari Edwin enggak ada kabar sama sekali di sekolah pun Edwin sangat cuek terhadapku .
"sayang kamu kenapa sih seharian enggak ada kabar ? Terus kenapa kmu akhir akhir ini cuek sama aku ?" kataku.
" apasih. Aku nggak papa tauk ." jawab Edwin menghindari tatapan mukaku .
" biasa aja, apa aku ada salah sama kamu ?"
" enggak ." jawab Edwin cuek lalu meninggalkan aku dan segera menuju ke kantin .

Semakin hari aku semakin enggak kuat melihat Edwin yang terus menganggap aku tak ada di kehidupannya. Edwin sudah tidak menganggap aku pacarnya lagi.

Keesokan harinya aku pergi ke Gramedia toko buku yang sering banget aku kunjungin. Tiba tiba aku melihat Edwin jalan mesra dengan cewe lain, aku sangat kaget dan segera menghampiri Edwin.
"Edwin ? Ini siapa ?" menunjuk cewe yang ada di sebelah Edwin
" Dia pacar ku. Kenapa ?" jawab Edwin santai
" tega kamu win, " melemparkan tangan ke muka Edwin lalu bergegas pergi ke Taman dengan airmata bercucuran .
Taman ini tempat yang paling sering aku kunjungi sewaktu pacaran sama Sio dulu. Suasananya enggak berubah masih sama seperti dulu ketika aku dan Sio terakhir bertemu.
"kenapa kamu tega nglakuin ini win, padahal aku sangat sayang sama kamu melebihi sayangku ke Sio dulu." aku bicara sendiri dan air mataku terus mengalir deras. Tiba tiba hujan turun dengan sangat deras. Aku tidak peduli aku tetap berada di Taman ini dengan balutan airmata.
Ada seorang cowo datang menghampiriku sambil memayungi aku yang sudah basah kuyup. Aku tidak peduli orang itu siapa yang jelas aku sangat kecewa dengan Edwin. Karena aku penasaran sama cowo tersebut aku membalikan tubuhku ke arahnya tak kusangka orang tersebut adalah Sio.
"kamu kenapa menagis ?" tanya Sio sangat panik
"aku...... (airmataku bertambah banyak ) "
"iya adapa denganmu ? Cerita sama aku siapa tahu aku bisa bantu kamu ."
"ada nggak sih cowo yang bener bener baik ?"
"pasti ada kok ."
" tapi kenapa ?ahhh sudahlah aku enggak mau bahas ini lagi ."
" plisss cerita sama aku dong ."
" aku habis ngeliat pacar aku jalan sama cewe lain ." (berusaha nahan airmata)
" jahat banget sih tu cowo, boleh aku tau orangnya ?"
"dia itu Edwin , selama aku putus dari kamu cuma Edwin yang bisa ngilangin kamu dari ingatanku. Lantas kenapa kamu datang kemari menemui aku setelah sekian lama ini kamu menghilang dari kehidupanku." (hujan mulai berhenti )
" aku barusan saja putus dengan pacarku, ternyata dia cuman manfaatin aku doang, cuman kamu cewe terbaik yang pernah aku temuin. Aku nyesel dulu mutusin kamu ." Sio ikutan banjir airmata .
" yaudahlah itukan dulu. Kamu juga cowo terbaik yang pernah aku temuin kok . "
Setelah beberapa lama menjalin komunikasi dan bercanda bareng kami berdua berniat untuk memulai hubungan dari awal. 

" nanti malam aku tunggu di Taman yaa jam tujuh, aku punya sesuatu yang special buat kamu." tanya Sio yang tiba tiba berubah care sama aku .
" baiklah ."
Kira kira sudah 2 jam Sio menunggu. Aku ingin melihat kesungguhan Sio , seberapa lama Sio menuggu aku. Tepat jam sepuluh malam Sio menyerah, aku melihat kesungguhan Sio di balik semak semak yang sempat membuat aku gatal gatal. Ternyata Sio menyiapkan hal special buat aku yaitu sebuah tulisan bertuliskan namaku dengan lilin lilin di pinggirnya. Karena aku kasihan melihat Sio yang hampir menyerah akhirnya aku menghampiri dia.

"maaf ya aku telat soalnya tadi ada masalah sebentar. " kataku berusaha menghela nafas.
"enggak papa kok aku baru nunggu dua jam saja. Aku pikir kamu tidak jadi datang. "
" terus kita mau ngapain disini ?" (muka kaget )
" gini loh, aku mau kita mulai dari awal lagi , aku janji enggak bakalan mutusin kamu lagi aku masih sayang sama kamu. Kamu mau kan jadi pacarku lagi ?"ucap Sio
" em sebenarnya aku udah bisa nglupain kamu, kenapa kamu datang lagi di kehidupanku ? Kamu tau nggak luka dulu makin kerasa sekarang. Saat aku bener sayang sama kamu kamu malah ninggalin aku. Dan sekarang aku udah bisa lupain kamu, kamu datang ngasih harapan ke aku ?"
"tapi sekarang aku janji yang dulu enggak bakal terulang lagi, aku janji kok . Mau yaa jadi pacar aku lagi?"
" maaf aku enggak bisa, kamu memang cowo terbaik yang pernah aku temui tapi aku enggak ingin yang dulu terulang lagi. Aku udah banyak ngerasain sakit ini semua. Mungkin untuk saat ini aku lagi enggak butuh cowo. Maafin aku " ujarku sambil pergi meninggalkan Sio.

Ini semua membuat aku ingin berhenti sejenak dari pahitnya jatuh cinta. Udah cukup ini semua aku rasain sendiri dan aku enggak ingin yang dulu terulang kembali. Kegagalan ini membuatku tak dapat merasakan indahnya jatuh cinta.
Jika memang sendiri lebih bahagia dan sendiri juga tidak pernah merasakan pahitnya sakit hati. Aku lebih memilih sendiri dan menepi.


SELESAI