Kamis, 10 Juli 2014

Arti tangisan



 Dinding-dinding hatiku merasa manangis  saat ku tahu orang yang selama ini aku percaya, tak ada lagi rasa cinta. Sedikit pun rasa iba terus mengoyahkan niatku untuk berbuat baik padanya. Orang yang tak pernah ku kenal sebelumnya, hanya lewat sebuah kedipan mata aku mengenalnya.

Itulah yang aku rasa, aku sangat terluka. Melihat kekasihku pergi dan digantikannya dengan seorang pria yang baru saya tak pernah ku kenal.
Mungkin benar apa kata ayah dan ibuku. Dia lebih baik untukku tapi aku tak bisa memberikan hatiku seutuhnya. Aku tak tahu banyak tentangnya yang jelas aku tak ingin mengulangi kesalahan yang sama.

Aku harus bagaimana? pilihan dari orang tuaku yang kurasa baik malah sungguh menyakitkan. Pilihan yang selama ini aku anggap dapat menjadi yang terbaik malah menjadi orang yang paling bodoh.

Aku kehilangan banyak waktu untuk memikirkan ini semua. Enggak ada salahnya aku coba merasakan cinta dengan pilihan orang tuaku.

"Yakinlah nak, tak ada orang tua yang tak mengingginkan anaknya hidup bahagia. Semua ini papa lakukan karena ingin melihat anaknya bahagia." 
Kali ini aku akan mencoba menerima pilihan itu. pilihan yang seharusnya tak pernah ada di hidupku terutama di urusan pribadiku.

Lalu bagaimana dengan kabar pria yang sering membikin aku menangis? setelah sekian lama aku tak mengenalnya, kini aku sangat terluka..
  
Selesai


Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku

Tanpa kata Benci

Mataku tak pernah berhenti menatap sebuah album foto kenangan tepat satu tahun kita pacaran dulu. Pikiran ini kembali tertuju dengan kenangan manis kita. Seberapa lama aku mencoba melupakan, semakin itu juga rasa cinta itu tumbul bersamaan.
Aku tak bisa memaksakan perasaanku, sungguh aku tak ingin perasaan ini muncul. Perasaan yang seharusnya sudah aku kubur dalam-dalam.
Tepat 3 tahun aku berada dalam kesunyian, tepat itu pula aku lupa akan kebahagiann kita selama ini.

"Aku mau pergi untuk beberapa tahun  kedepan, dan aku akan kembali saat kamu berhasil menemukan yang terbaik untuk diri kamu sendiri, tapi bukan aku" bagaimana bisa aku mengingat kalimat itu setelah sekian lama aku mencoba merelakannya. Jujur ini semua sia-sia.

Aku benci kamu... sampai kapanpun. Kalimat itu yang selalu aku tanamkan pada diriku, sebagai pedoman agar aku dapat menghilangkanmu.
Lantas kali ini aku tak bisa membencimu karna aku selalu mengingat kenagan manis kita. Selama aku bahagia, aku tak dapat membencimu.

Kini aku menantimu, diam dan terus diam berharap kamu pulang, berharap kamu bersandar pada bahu ini.
Merindukanmu lewat doa yang selalu kulakukan.

Ini semua salah mu.. Kau tak dapat ku lupakan.

Sungguh sulit ku percara ini semua. Apa yang harus aku lakukan? aku harus membencimu? atau aku harus mencintaimu lagi?

Tidakkkkkkk! aku akan tetap mencintaimu dengan cara membencimu.

 SELESAI


  Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku